BATARAMEDIA.COM, Kepulauan Selayar         Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Ma’minasa merasa kebingunan untuk menyelesaikan proyek pembangunan jalan rabat beton sepanjang 100 meter pada ruas Labuang Marege – Marege Utara di Desa Ma’minasa Kecamatan Pasi’masunggu Pulau Jampea. Betapa tidak, menurut pemahaman mereka bahan material yang harus disediakan berdasarkan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) pembangunan jalan rabat beton terdiri dari seng gelombang, tegel keramik ukuran 20×25 cm, keramik 40×40 cm, cat tembok merk Metrolite, Cat Kayu Avian, Plamur, Amplas, Kloset Jongkok, Kran Air 1/2 inch, rangka baja ringan C.75.60, Grendel pintu, batu merah, Kayu kelas I yang terdiri dari balok dan papan, paku seng dengan menggunakan Dana Desa tahun 2020 senilai Rp 93.370.000,-.

Sumber BATARAMEDIA.COM menyebutkan bahwa pada tahun 2019 lalu, kami telah melakukan koordinasi dengan Kepala Desa Ma’minasa, HKL setelah selesai pembangunan jalan rabat beton yang panjangnya mencapai 200 meter itu. Karena mengingat jalan rabat beton ini tidak akan dapat difungsikan oleh masyarakat setempat jika hanya sampai pada pertigaan jalan masuk ke kebun warga apalagi pada titik 200 meter terdapat tebing. Lagi pula pada rencana awal pembangunan jalan rabat beton ini akan menghubungkan antara Dusun Labuang Marege dengan Dusun Marege Utara. Itulah sebabnya kami mengusul untuk kelanjutan dari jalan ini dan dikerjakan oleh pemilik lahan atas nama H Hamid.

READ  Ngeriii....!! di Majene Positif Covid-19 meningkat. Ini kata Satgas Covid-19 majene

Setelah dilakukan peninjauan lokasi yang dihadiri oleh Camat Pasi’masunggu, Siregar bersama sekretarisnya, Nur Mawing kala itu, maka disepakati H Hamid yang melanjutkan pekerjaan pembangunan jalan setapak itu. Apalagi H Hamid adalah Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) pada saat itu. Termasuk Ketua BPD Desa Ma’minasa juga ikut hadir bersama pejabat Kepala Desa Ma’minasa, Awaluddin. Sehingga pada tahun 2020, oleh pejabat Kepala Desa Ma’minasa telah menyerahkan pekerjaan itu kepada TPK. Namun yang membingunkan bagi TPK karena menurut uraian bahan material yang tertuang dalam RAB merupakan bahan material yang biasa digunakan untuk pembangunan gedung. Ini yang membingunkan.” ungkapnya.

Saat itu masa transisi pemerintahan di Desa Ma’minasa yang dijabat oleh Awaluddin. Olehnya itu, Pemerintah Kecamatan Pasi’masunggu bersama Pemerintah Desa Ma’minasa menyarankan agar dilanjutkan oleh H Hamid. Dengan ketentuan siapapun yang terpilih sebagai Kepala Desa Ma’minasa definitif nantinya, anggaran lanjutannya diserahkan kepada H Hamid selaku pemilik lahan. Sehingga setelah pemilihan kepala desa maka HKL kembali terpilih dan proyek itupun diserahkan kepada kami.” tambah sumber tadi.

Yang lebih membingunkan lagi setelah pemeriksa dari Inspektorat Kabupaten turun melakukan pemeriksaan maka besaran anggarannya membengkak dari Rp 93.370.000,- menjadi Rp 119.348.500,- Sehingga pihak pemeriksa memperoleh temuan sebesar Rp 48.051.145,48. Sementara besaran dana yang tertuang dalam RAB cuma senilai Rp 93.370.000,- Belum lagi oknum Kepala Desa Ma’minasa, HKL telah memotong 24,5 persen dari total anggaran itu. Sedangkan dana yang kami terima hanya Rp 65 juta lebih setelah dipotong 24,5 persen yang diklaim sebagai bagian oknum kepala desa. Bahkan awalnya dia minta 26,5 persen. Namun kami meminta kebijakan 24,5 persen saja apalagi kami akan menyelesaikan upah TPK. Akibatnya upah TPK tidak terbayarkan. Karena modal kami saja tidak mencukupi.” ungkap sumber itu saat ditemui dirumah pribadinya di Marege, Jumat (08/10/21) pekan lalu.

READ  Cuaca Ektrim, KMP Kormomolin menunda keberangkatan

Selain itu salah seorang tokoh masyarakat Desa Ma’minasa yang berinisial DMT mengumbar jika baik oknum Kepala Desa, oknum Ketua BPD maupun oknum Sekretaris Desa juga disebut-sebut sebagai pelaksana proyek yang ada di Desa Ma’minasa yang sumber dananya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa). Salah satunya adalah jalan setapak di Dusun Labuang Marege terindikasi dikerjakan oleh oknum Ketua BPD akan tetapi secara formalitas yang mengerjakan itu atas nama keluarganya. Sedangkan pembangunan buronjong di Sungai Marege diduga dikerjakan oleh oknum Sekretaris Desa (Sekdes) Ma’minasa. Selain itu, pembelian lokasi pekuburan yang anggarannya bersumber dari APBDesa juga tanpa musyawarah dengan masyarakat setempat sehingga terkesan mubazzir sebab masyarakat tidak ingin menggunakannya.” pungkas DMT yang ditemani salah seorang warga lainnya.

READ  Waspada....!!! Dua Sosok Lelaki Mencurigakan Tinggal di Hutan Selayar

Ia juga menambahkan bahwa penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Covid 19 di Desa Ma’minasa yang tadinya 100 orang lebih kini tersisa 33 orang. Dengan alasan bahwa dialihkan untuk pemberdayaan masyarakat yaitu pengadaan handtraktor sebanyak 6 buah. Namun handtraktor itu sampai saat ini tak kunjung datang. Selain itu Dana BUMDes juga diduga disalahgunakan.” ungkap dia.

Kepala Desa Ma’minasa, HKL yang hendak dikonfirmasi sekaitan pelaksanaan proyek ini terkesan menghindar. Tiga kali dihubungi telfon genggamnya tapi tiga kali pula berjanji akan menemui BATARAMEDIA.COM. Bahkan saat bersama rombongan Bupati Kepulauan Selayar, HM Basli Ali, Kepala Desa Ma’minasa, HKL sempat ditanya langsung di Parang dan dijawab sebentar malam ketemu. Akan tetapi hingga wartawan dari media ini meninggalkan Jampea, Kepala Desa Ma’minasa tak kunjung datang menemui untuk melakukan klarifikasi.

Sementara itu, Pendamping Teknis Desa Ma’minasa yang lebih akrab dipanggil Idul saat dihubungi via WhatsAppnya di Bulukumba mengakui jika RAB yang digunakan dalam pembangunan jalan rabat beton itu menggunakan RAB pembangunan MCK. Akan tetapi item bahan material yang digunakan hanya berupa kerikil, pasir, semen dan batu yang memiliki volume dan anggaran.” ungkapnya.

 

Penulis : DSJ

Editor.   : AB