BATARAMEDIA.COM | Kepulauan Selayar        Ada tiga kriteria atau syarat perkara pidana umum yang dapat diselesaikan berdasarkan Keadilan Restoratif menurut Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 mengenai penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif. Keadilan Restoratif adalah penyelesaikan perkara tindak pidana umum dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku dan korban serta pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan untuk kembali kepada keadaan semula tanpa balas dendam.

Adapun kriteria atau syarat yang dapat dilakukan secara restoratif justice yakni pelaku baru pertama kali melakukan tindak pidana umum, tindak pidana yang dilakukan ancaman hukumannya dibawah 5 tahun dan kerugian yang ditimbulkan tidak lebih dari Rp 2,5 juta. Mendasari Peraturan Jaksa Agung RI Nomor 15 Tahun 2020 kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kepulauan Selayar melalui Kepala Seksi Intelijennya, La Ode Fariadin, SH sehingga kasus penganiayaan yang dilakukan oleh tersangka Agus bin Sattulo terhadap korban Bahtiar bin Patta Muluk adalah merupakan kasus perdana yang diselesaikan berdasarkan keadilan restoratif diwilayah hukum Kejaksaan Negeri Selayar.

READ  Bangun integritas Pemuda dan Remaja dalam membangun peradaban, BKPRMI Tompobulu Resmi di lantik

Kasus ini dinyatakan P21 atau tahap II yakni penyerahan barang bukti dan tersangkanya pada 29 September 2021 yang lalu dari Tim Penyidik Tindak Pidana Umum pada Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor Kepulauan Selayar kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), Wita Oktadeanti, SH MH dan Pra Ameliana Aminuddin, SH. Olehnya itu kedua JPU ini dengan mengingat dan mendasari Peraturan Jaksa Agung RI Nomor 15 Tahun 2020 telah memfasilitasi upaya perdamaian kepada kedua belahpihak berdasarkan keadilan restoratif tanpa adanya tekanan, intimidasi ataupun paksaan dari pihak manapun.

Sehingga peran Jaksa Penuntut Umum selaku fasilitator antara korban dan pelaku perkara tindak pidana yang juga dihadiri oleh istri korban dan istri pelaku serta disaksikan Kepala Desa Parak, Zainal Yasni di Kecamatan Bontomanai dengan Lurah Putabangun, Achmad Raizal, SE di Kecamatan Bontoharu. Dalam pertemuan mediasi yang dilakukan pada 4 Oktober 2021 tambah La Ode Fariadin, pihak pelaku Agus bin Sattulo telah meminta maaf langsung kepada korban Bahtiar bin Patta Muluk dengan kebesaran hati memberikan maaf atas perbuatan dan perlakuan pelaku dengan dibuatkan berita acara perdamaian.

READ  Ngeriii....!! di Majene Positif Covid-19 meningkat. Ini kata Satgas Covid-19 majene

Keberhasilan pelaksanaan restoratif justice atau keadilan restoratif tidak lepas dari petunjuk dan arahan Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Selayar, Adi Nuryadin Sucipto, SH MH, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kepulauan Selayar, Kepala, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Raden Febrytriyanto, SH, MH, Asisten Tindak Pidana Umum Kejati Sulsel serta Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum yang pada akhirnya perkara 351 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dilakukan penghentian penuntutan (RJ12) dengan mendasari Peraturan Jaksa Umum RI Nomor 15 Tahun 2020.” ungkap dia via pesan WhatsAppnya kepada media ini.

 

 

Penulis : DSJ

Editor.   : AB