Puncak HJB 691 dan Tradisi Mattompang Arajang

0
25

BONE, BATARAMEDIA.COM – Gelaran Puncak Hari Jadi Kabupaten Bone (HJB) ke – 691 di tandai dengan menggelar acara ritual adat yaitu Mattopang Arajang. Punjak HJB kali ini berlangsung di Rumah Jabatan Bupati Bone yang di hadiri oleh Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman Kapolda Sulsel Irjen Pol Merdisyam dan sejumlah Tokoh politik dan sejumlah tamu undangan dari Pemprov Muspida, Forkopimda yang di gelar Rabu, 7 April 2021.

Tradisi Mattompang Arajang tersebut merupakan gelaran satu tahunan yang di lakukan setiap hari jadi Kabuaten Bone.

melansir dari literatur Jurna Anoma Karya Sastra FKIP Universitas Cokroaminoto Palopo
Mattompang arajang adalah upacara adat yang sakral dengan mensucikan
benda-benda pusaka kerajaan Bone. Prosesi tersebut biasa juga disebut dengan
Mappepaccing arajang atau dikenal pula dengan istilah Pangadereng dilangiri.
Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Teddung Pulaweng (Payung
emas), Sembangeng Pulaweng (selempang emas), Kelewang LaTea RiDuni, Keris
La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeng (Senjata adat
tujuh atau Ade’ Pitu). Pencucian benda pusaka tersebut menggunakan beberapa
air sumur yang berada di Kabupaten Bone, yakni Bubung Parani, Bubung Bissu,
Bubung Tello’, dan Bubung Laccokkong. Sumber mata air ini dikumpulkan
sebagai bahan pembersihan pusaka.
Pada zaman dahulu, mappepaccing arajang atau mattompang
dilaksanakan oleh para Bissu atas restu Raja Bone atau Mangkau di dalam
ruangan tempat penyimpanan arajang tersebut. Para Bissu dianggap mengetahui
serta mampu berhubungan dengan kegaiban yang menyertai arajang atau benda
pusaka tersebut. Oleh karena itu, secara religius, hanya para Bissulah yang
dianggap mampu dan kapabel untuk menggerakkan dan memindahkan arajang
(benda pusaka) dari tempatnya semula.
Ritual Mattompang Arajang ini merupakan sebuah ritual tahunan yang
dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Bone dalam rangka
penyucian benda-benda pusaka warisan Kerajaan Bone. Ritual tersebut sebagai
salah satu pesta adat masyarakat, sekaligus pelestarian budaya Kerajaan Bone.
Masyarakat Bone umumnya akan “pulang kampung” demi menyaksikan secara
langsung prosesi dan ritual tersebut. (din)

READ  Tingkatkan Kompetensi Siswa, Kepsek SMKN 9 Makassar bawa Siswa APHP belajar langsung di Industri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here