BATARAMEDIA.COM, Kepulauan Selayar Sekretaris Desa (Sekdes) Bontomalling, Muhammad Ali Muliadi dan Aby Suaib selaku mantan Sekdes selama kurang lebih 11 tahun (2009 – 2020), keduanya mengaku tidak pernah memegang dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Desa Bontomalling. Karena menurut keduanya, yang memegang dokumen APBDes Desa Bontomalling cuma Kepala Urusan Keuangan, Jamaruddin bersama Andi Suhri selaku Kepala Desa Bontomalling.

Sementara itu, perangkat desa lainnya bersama dengan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bontomalling, Andi Rahimung juga mengaku tak pernah dilibatkan dalam penyusunan APBDes.

Dan lebih ironisnya lagi karena sejumlah anggota Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) hanya sebagai tim formalitas yang tidak difungsikan.

Aby Suaib mantan Sekdes Desa Bontomalling (2009 – 2020) ketika dikonfirmasi
BATARAMEDIA.COM, M. Daeng Siudjung Nyulle bersama Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejaksaan Negeri Kepulauan Selayar, La Ode Fariadin, SH dirumah kediamannya di Parumaang Pulau Jampea, Senin (02/08/21) yang lalu dengan polos mengungkapkan jika dirinya tidak pernah dilibatkan dalam proses penyusunan APBDes apalagi menyentuhnya.” Jujur jika aku pernah memegang domumen APBDes hanya setengah malam. Itupun saat akan membuat Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Akhir masa jabatan tahun 2013 – 2019 yang lalu. Karena yang kami ketahui pemegang dokumen APBDes itu cuma Kepala Desa (Kades) dan Kepala Urusan (Kaur) Keuangan.” kata dia polos yang disaksikan oleh salah seorang warga setempat Surgawi.

READ  Kejari Selayar Periksa 16 Saksi Dugaan Korupsi Runway Strip Bandara H Aroeppala Padang

Bahkan ketika itu, Aby Suaib membeberkan jika tandatangan dirinya sebagai penerima honor selaku anggota TPK Desa Bontomalling ditengarai dipalsukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Pasalnya kata dia, seingat kami tidak pernah merasa bertandatangan sebagai TPK tiba-tiba Tim Inspektorat Kabupaten Kepulauan Selayar turun melakukan klarifikasi sekaitan teken kami sebagai penerima honor bersama beberapa rekannya. Namun menurut pengakuannya kepada tim itu, jika andaikan menerima honor, bertandatangan saja kami tidak pernah.” imbuhnya keheranan.

“Andaikan menerima honor, SK pengangkatan kami saja tidak pernah dilihat. Dan ketika tim pemeriksa dari Inspektorat memperlihatkan bukti penerimaan honor itu, kami hanya menjawab,” Kami tidak tahu dan tidak pernah menerima honor sebagai TPK. Dan oleh karena itu, tim pemeriksa meminta kami untuk membuat pernyataan bahwasanya tidak pernah menerima honor sebagai anggota TPK. Dan kami pun membuatkan pernyataan yang diminta oleh tim pemeriksa dari Inspektorat.” pungkasnya kepada media ini.

Adapun anggota Tim Pelaksana Kegiatan tahun 2018 Desa Bontomalling yang disebut-sebut ketika itu masing-masing saya sendiri, Aby Suaib, Andi Rahimung, Mustari dan Andi Ramlah. Dilaporan penerimaan honor TPK ada tandatangan kami ditemukan nominal uang yang kami terima meskipun pada faktanya kami merasa tidak pernah bertandatangan apalagi menerima honor. Itupun kami ketahui setelah tim dari Inspektorat Kabupaten turun melakukan klarifikasi kepada kami.” tuturnya.

Sejak tahun 2014 – 2020 arsip APBDes dan pertanggungjawabannya tidak pernah ada tersimpan di Kantor Desa. Dan ketika ditanya bendahara dan Kepala Desa Andi Suhri, arsipnya tersimpan dikontrakan desa di Benteng Selayar.” Aby Suaib menambahkan. Namun oleh Kasi Intel Kejari, La Ode Fariadin menanyakan, siapa yang membuat Laporan Pertanggungjawabannya itu ? Maka dengan spontanitas dijawab oleh Aby Suaib hanya bendahara. Padahal kami tahu jika tupoksi pembuatan LKPJ adalah Sekdes. Tapi kan kita tidak diberikan kewenangan untuk itu.” tambahnya lagi.

READ  KASIH PIDSUS KEJAKSAAN LUWU UTARA," BELUM ADA SURAT BEBAS TEMUAN MANTAN DESA LIMBONG TAHUN ANGGRAN 2020 DI BERIKAN OLEH INSPEKTORAT DAN LAPORAN DUGAAN TEMUAN MASI DI PROSES"

Kemudian terkait info awal pengadaan kapal jolloro desa itu dibuat secara patungan oleh Patta Onto bersama Andi Suhri. Tapi setelah saya tanya pak Patta Onto, dia mengaku jika itu jolor bekas yang dibeli oleh Kades dari Patta Onto. Saya pakai selama 2 tahun baru kemudian diminta untuk dibeli oleh Kades, Andi Suhri dengan harga Rp 100 juta. Dan menurut pengakuan Patta Onto itu sudah dicicil oleh Kades tapi sudah lunas. Namun ketika media ini menanyakan, apakah uang Patta Onto sudah diberikan oleh Kades Andi Suhri maka dijawab dengan terbata-bata,” Belum.” Uangnya masih ada sebagian saya titip sama pak desa.” ungkapnya lagi.

Sementara itu, Sekdes Bontomalling, Muhammad Ali Muliadi juga ketika dikonfirmasi secara terpisah di Kantor Desa Bontomalling pada Senin, 2 Agustus 2021 lalu juga mengakui jika dirinya juga tidak pernah memegang dokumen APBDes. Kalau dokumen APBDes sampai saat ini, ada ditangan bendahara dan kades. Sedangkan terkait pelaksanaan proyek pembangunan di desa kami tidak tahu karena yang berhubungan dengan pelaksana proyek, itu cuma Kades. Kami selaku Sekdes tidak tahu. Termasuk staf dan perangkat desa yang lain tidak terlibat. Yang berurusan hanya Kades dan pelaksana proyek lapangan. Dan yang kerja LPJ itu hanya bendahara bukan sekretaris desa. Sekdes tidak dilibatkan. Staf desa juga tidak tahu tentang pengadaan kerbau yang tertuang dalam APBDes Bontomalling selama tiga tahun anggaran berturut-turut (2019 – 2021).

READ  Di duga menyalahgunakan alat berat EXCAVATOR milik Pemda

Dikonfirmasi melalui jaringan selulernya sekaitan dengan dokumen APBDes, Kepala Urusan Keuangan Desa Bontomalling, Jamaruddin menampik jika tudingan itu tidak benar. “Tidak benar itu jika APBDes tersimpan dirumah kontrakan desa di Selayar. Itu ada dokumen APBDes tahun 2021 yang tersimpan di Kantor Desa dan diperlihatkan oleh perangkat desa hari itu.

Kemudian bagaimana bisa Ketua BPD dan Sekretaris Desa bisa melihat APBDes jika ikut melakukan penyusunan saja tidak pernah. Setahu saya itu Ketua BPD hanya satu kali pernah mengikuti proses penyelesaian APBDes. Karena kami menyelesaikan penyusunan APBDes di Selayar. Mereka diundang ke Selayar akan tetapi mereka memang yang tidak mau. Dengan berbagai macam dalih dan alasan. Demikian pula sekretaris desa.” kata Jamaruddin.

 

Penulis : DSJ

Editor.   : AB