“Drama percaturan politik diatas panggung”

oleh Muh Irsang Pattalalo  mahasiswa Pascasarjana universitas Jayabaya Jakarta.

-Sebagai Negara yang menganut sitem demokrasi, maka pemilihan umum (Pemilu) menjadi sangat penting dan strategis. Pemilu sejatinya merepsentasikan kekuasaan rakyat. Mandate kekuasaan diberikan oleh rakyat kepada para elit, baik di legislative maupun eksekutif, dengan harapan mereka membawa Negara dan bangsa Indonesia kearah yang lebih baik.
Tentunya Negara demokrasi akan melakukan pemilu setiap lima tahun sekali seperti Indonesia, karena system demokrasi suatu system transformasi kepemimpinan. Dimana pemilu kegiatan partisipasi masyarakat untuk memilih pemimpin, sehingga momentum pemilu tingkat pusat, pilkada tingkat daerah suatu pesta bagi masyarakat karena akan memilih pemimpinan sesuai dengan pilihannya sendiri.

Di setiap momentum pesta demokrasi, semua para politiisi telah bermunculan di permukaan panggung untuk memainkan perannya. Maka para politisi telah muncul akan menggunakan symbol-simbol atas nama rakyat untuk kepentingan, sehingga sasaran utama menjadi korban (rakyat). Dan kita harus akui secara realitas demi kekuasan maka atas nama rakyat selalu menjadi simbolik dalam percaturan politik untuk mendapatkan kekuasaan. Secara fundamental permainan politik selalu didominasi oleh kepentingan masyarakat di politisasi untuk mendapatkan elektebilitas oleh actor politik (political actor).

READ  Rindu sesama teman SMA, Ikatan alumni SMA/STM PEPABRI MAKASSAR gelar Temu Kangen

Percaturan politik setiap momentum pesta demokrasi (pemilu), maka actor politik (political actor) memanfaatkan setiap panggung untuk bersosialisasi tentang visi dan misi kepada masyarakat. Setiap panggung yang dimainkan para politisi hal utama mengonntruksikan kepentingan rakyat untuk mendapatkan dukungan. Nah kita ketahui bersama bahwa permainan para politisi dengan janji yang di kampanyekan hanya sekedar janji, sekitika telah duduk di kursi kekuasaan. Dengan demikian masyarakat apatis dalam partisipasi politik karena kepetingannya kurang diperhatikan ketika sudah duduk di kursi empuk kekuasaan. Maka prinsip apatis masyarakat tidak boleh di salahkan karena tak lain karena korban janji para elit, sehingga masyarakat akan berpikir paragmatis ketika menghadapi pesta demokrasi.

Politik dan Partisipasi Politik Masyarakat
Tahun politik suatu pesta demokrasi masyarakat akan memilih pemimpin untuk menggunakan hak politiknya, momentum pesta demokrasi seperti pilkada misalnya, dimana para poitisi akan bermunculan di permukaan masyarakat dengan melalukan pendekatan kerakyatan demi mendapatkan dukungan secara populeritas dan elektibilitas. Tentunya kita harus pahami bersama bahwa pemilu selalu di butuhkan partisipasi masyarakat untuk menjaga performa politik secara positif sekaligus menjadi momentum perbaikan system yang menjadi warisan masa lalu dan potensial permasalahan yang akan datang, sehingga partisipasi masyarakat sangat di butuhkan untuk memilih pemimpin.
Jelang momentum pemilu, selalu di mempertontonkan drama politik oleh pelaksana pemilu dimana terkadang di berikejutan masyarakat dengan permainan politik yang dimainkan oleh elit, dengan mengejar kehormatan atau membangun citra dan lobi politik untuk menembus simpul-simpul dukungan sampai keakar rumput.

READ  Kisruh Pengesahan OMNIBUSLAW, Akademisi Bersama Praktisi dan aktivis Organisasi Buruh Bedah isi UU

kerapkali disebut sebagai tahun politik. Menurut McClosky ( Gun-Gun Heryanto, 2018. 127-128), Memaknai istilah partisipasii politik sebagai kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat, di mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam proses pembentukan kebijakan umum.

Partisipasi politik warga masyarakat suatu sukarela tapi sangat penting untuk menentukan pemimpin selama lima tahun yang akan datang, sehingga partisipasi politik masyarakat secara langsung maupun tidak langsung sangat berpengaruh arah masa depan bangsa dan Negara. Suatu Negara demokrasi yang maju sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat, sehingga edukasi politik kepada masyarakat sangat penting.
Peningkatan partisipasi politik kita perlu ketahui sejauh mana sosialisi politik yang di lakukan oleh elit dan kaum terdidik kepada masyarakat. Proses sosialisasi politik bisa meleengkapi seseorang dengan sebuah layar-tanggapan yang dapat merangsang politik. Kita melihat sekarang bahwa rangsangan politik kepada masyarakat akan mengubah pradigma tentang eksistensi politik sebenarnya. Mengenai sosialisasi politik kepada masyarakat untuk meningkatkan partisipasi politiknya untuk terlibat dalam system.

READ  Di SLBN 1 Makassar, Prof Jufri resmikan kegiatan Aksesibilitas Fisik dan Gelar Produk

Dari sudut pandang system politik, partai politik dan kelompok kepentingan dapat dinyatakan sebagai agen-agen mobilisasi politik, yaitu suatu organisasi, melalui mana anggota masyarakat dapat berpartisipasi dalam kegiatan politik yang meliputi usaha mempertahankan gagasan posisi, situasi, orang atau kelompok-kelompok tertentu, lewat system politik yang bersangkutan. Perbedaan dasar antara keduanya terletak pada sikap-sikap mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here