BATARAMEDIA.COM | Sikap dan prilaku arogansi oknum Kepala Balai Taman Nasional Laut Taka Bonerate, Faat Rudianto, S.Hut, M.Si ternyata bukan hanya dirasakan oleh sejumlah awak media namun kebohongannyapun pernah dilontarkan kepada salah seorang tokoh masyarakat didaerah ini saat secara kebetulan dalam satu kapal dalam perjalanan dari Pelabuhan Bira (Bulukumba) menuju Pelabuhan Pamatata Kabupaten Kepulauan Selayar Propinsi Sulawesi Selatan. Olehnya itu, seorang pimpinan yang memiliki sikap dan kepribadian yang sombong dapat dipertimbangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk ditempatkan di Kabupaten Kepulauan Selayar.

Salah seorang reporter dari Harian Tribun Timur Makassar yang ditempatkan di Bumi Tanadoang Selayar mengaku jika dirinya juga pernah mendapat perlakuan yang tak etis dari Faat Rudianto. ” Memang orangnya sangat arogan dan terkesan alergi dengan awak media. Tampak ketika itu tidak mau menemui wartawan dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Hingga beberapa stafnya yang diutus untuk menemui sang kuli tinta akan tetapi awak media ini tetap bersikukuh untuk menemui pimpinan.” kata NW melalui pesan singkatnya kepada media ini, Selasa (14/09/21) sekitar pukul 14.40 Wita siang tadi.

READ  Rakor PPDB sebagai Upaya Penyelesaian Permasalahan PPDB Prov.Sulawesi Selatan.

Salah seorang tokoh masyarakat di Selayar yang berinisial SM juga mengaku pernah mendapatkan cerita bohong dari Faat Rudianto selaku Kepala Balai Taman Nasional Laut Taka Bonerate diatas kapal fery dalam perjalanan dari Pelabuhan Bira menuju Pelabuhan Ferry Mappatoba Karaeng Batara di Pamatata.

“Datangi saja itu Kepala Balai dikantornya. Pembohong itu. Saya pernah satu kapal fery dalam sebuah perjalanan sekitar tahun lalu dan bercerita jika tren kasus ilegal fishing dalam Kawasan Taman Nasional Laut Taka Bonerate sudah turun dan bahkan tidak ada lagi. Faktanya malah memakan korban jiwa lagi.” ungkapnya dengan mimit kecewa.

Sepertinya dia tidak kenal saya saat itu. Bahkan saat mengungkapkan kebohongannya itu, tanpa ditanya telah mengaku jika dirinya adalah Kepala Balai Taman Nasional Laut Taka Bonerate Selayar. Namun sayangnya, saya lupa nama kapal ferry yang kami tumpangi kala itu.” tambahnya.

READ  FKIK UIN Alauddin Makassar gelar webinar kesehatan secara virtual via Zoom

Sumber dari Kantor Balai Taman Nasional juga membenarkan jika pimpinannya itu memiliki sikap dan prilaku yang kurang beretika. Ironisnya lagi karena pada saat kejadian, itu Kepala Balai bersama Kepala Tata Usaha Balai Taman Nasional sedang berada diwilayah Taman Nasional Laut Taka Bonerate.” kata sumber itu.

Sementara itu, aktivis Paralegal Lembaga Bantuan Hukum Cinta Lingkungan dan Pencari Kebenaran ( LBH CL&PK) Sulawesi Selatan, Wahyudin, ST sangat menyesalkan kasus pengeboman ikan yang terjadi dalam Kawasan Taman Nasional Laut Taka Bonerate. Kejadian seperti ini seringkali terjadi dan berulang.” kata dia.

Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun oleh LBH CL&PK Sulsel bahwa pada 2019 lalu juga terjadi kasus yang sama dan menewaskan dua pelaku bom ikan masing-masing Nurdin (46) dan Agus alias Lin (16) warga nelayan asal Pasi’tallu Tengah Desa Tambuna Kecamatan Taka Bonerate Selayar. Dan tahun ini tepatnya Rabu, 1 September kembali menewaskan lelaki Sardona (30) warga Dusun Tinabo Desa Tarupa.

READ  Sebuah Bangunan Rumah, Desa Minasa Baji disinyalir tidak memiliki IMB.

Olehnya itu, sebagai masyarakat Kepulauan Selayar yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan khususnya di Kawasan TNLTB meminta kepada Kepala Kepolisian Resor Kepulauan Selayar dan jajarannya untuk secara rutin dan berkesinambungan melakukan proses penyelidikan terhadap kasus penjualan pupuk yang sering digunakan sebagai bahan bom rakitan yang beredar di Kabupaten Kepulauan Selayar. Selain itu, juga diminta kepala Kepala Balai Taman Nasional untuk lebih proaktif melakukan pengawasan secara ketat dan edukasi akan bahaya penggunaan bom dalam menangkap ikan dilaut.” harap Wahyudin.

Disamping itu kepada pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Selayar juga agar proaktif melakukan pendidikan dan bimbingan teknis akan bahaya dan dampak yang bisa ditimbulkan dari penggunaan bom rakitan dan bahaya bom ikan.” kuncinya.

 

Penulis : DSJ

Editor.   : AB