BATARAMEDIA.COM | Bupati Kepulauan Selayar, HM Basli Ali sejak kepemimpinannya pada periode pertama tahun 2015 – 2020 dan kembali dilanjutkan pada periode keduanya (2020 – 2024) telah menorehkan sebuah kebijakan baru dengan memberikan bantuan santunan hidup selama satu tahun kepada orang tua lanjut usia, anak yatim dan yatim piatu serta penyandang disabilitas atau cacat fisik melalui Dinas Sosial setempat sebesar Rp 3.600.000 perorang.

Kebijakan yang dinilai sangat manusiawi ini telah mendapat simpati dan pujian dari semua kalangan di Kepulauan Selayar Propinsi Sulawesi Selatan. Meskipun bantuan ini diperuntukkan bagi warga lansia, yatim dan disabilitas akan tetapi masih saja ada segelintir oknum aparat pemerintah desa didaerah ini yang ingin menggerogoti dengan cara melakukan kunjungan dari rumah ke rumah meminta imbal jasa kepengurusan bantuan itu. Nominalnyapun tidak tanggung-tanggung hingga Rp 600.000 perorang.

Kejadian ini telah ditemukan dibeberapa wilayah desa di Kabupaten Kepulauan Selayar meskipun pada akhirnya sebagian sudah mengembalikan ketika niat jahat oknum tercium oleh wartawan. Seperti halnya yang terjadi di Desa Patilereng Kecamatan Bontosikuyu. Dua oknum aparatnya yang berinisial AN dan AG dilaporkan oleh warganya sendiri telah melakukan pemotongan hingga Rp 600.000,- perorang dengan dalih sebagai imbal jasa dan biaya operasional selama dalam pengurusan.

READ  Pelapor Dugaan Korupsi Desa Tombolo Menyerahkan Semua Dokumen Ke LPK Sulawesi Selatan

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh media ini di Kantor Dinas Sosial Kepulauan Selayar Parappa baru-baru ini bahwa di Desa Patilereng dalam tiga tahun berturut-turut yang dimulai sejak tahun 2018, 2019 dan 2020 tercatat ada 52 warga yang terdiri dari orang tua lansia, yatim, yatim piatu dan cacat fisik telah menerima bantuan senilai Rp 3,6 juta perorang yang diterima langsung melalui rekening penerima manfaat di Bank Sulselbar Cabang Selayar. Sebanyak 30 warga lansia, 10 anak yatim dan yatim piatu serta 12 warga cacat fisik. Namun satu diantara penerima dari orang tua lanjut usia tidak sempat menerima, dia meninggal dunia.

Salah seorang warga penerima manfaat yang berinisial S ketika ditemui dirumahnya, Sabtu (26/06/21) sekira jam 09.00 Wita mengaku sempat bersitegan dengan salah seorang staf desa yang mendatangi dirinya usai menerima bantuan di Bank Sulselbar Cabang Selayar beberapa waktu lalu. “Kami malahan sempat bersitegan dengan AN saat kami dimintai Rp 500.000 disebuah rumah dekat Bank Sulselbar Jl Ahmad Yani Benteng beberapa menit setelah bantuan itu kami terima. Sebelumnya juga AN yang ditemani AG sempat ke rumah saya dengan meminta uang materai dan pembukaan nomor rekening senilai Rp 100.000. Sehingga total uang yang diterima sudah Rp 600.000.” ungkapnya kesal.

READ  Bagikan Sembako di Momentum Hari Jadi Sulsel, Kacabdisdik Wilayah V Apresiasi PMR Unit 241 SMAN 18 Bulukumba

Hal senada juga dilontarkan oleh warga penerima lainnya yang berinisial R. Ia mengaku jika awalnya dimintai untuk buku tabungan senilai Rp 50.000,- dan setelah bantuan diterima, ia meminta lagi Rp 400.000,- Malah sebelumnya juga pernah meminta untuk uang materai meskipun nominalnya dia mengaku lupa. “Saya dimintai sebanyak tiga kali.” kata dia.

Lain halnya yang dipaparkan oleh M yang juga penerima manfaat. Ia mengaku heran dengan ulah dan prilaku AN bersama AG. Karena menurut orang tua yang sudah ubanan ini, biasanya kalau pejabat korupsi itu uang negara. Namun yang dilakukan oleh kedua oknum aparat Pemdes Patilereng ini, bantuan rakyat yang digorok. Memalukan memang.” pungkasnya.

READ  Mantan Kades Menara Indah, Mustafa Tinggalkan Sejumlah Bengkalaian

Baik AN maupun AG ketika menemui media ini di Benteng, Senin (28/06/21) lalu mengaku akan mengembalikan semua uang yang diberikan oleh warganya. “Terima kasih atas saran dan masukannya untuk kami kembalikan uang itu. Insha Allah sepulang ke desa, akan kami segera kembalikan semuanya.” pungkasnya. Selanjutnya pada Minggu (04/07/21) AN bersama AG kembali menemui media ini dan menyerahkan daftar nama-nama penerima sekaligus yang dikembalikan uangnya sebagai tanda terima kasih mereka pada saat menerima bantuan itu. Totalnya mencapai 52 orang tetapi satu diantaranya belum sempat menerima terlebih dahulu meninggal.

Kepala Desa Patilereng, Saharuddin yang dikonfirmasi melalui telfon selulernya, Rabu (07/07/21) siang tadi membenarkan adanya pengembalian tanda terima kasih yang diberikan kepada oknum aparatnya. ” Semua uang yang diberikan kepada kedua oknum bawahan saya sudah dikembalikan kepada penerima. Sebab memang saya sendiri yang memerintahkan untuk segera dikembalikan. Saya tidak mau dibilangi kepala desa yang melakukan pembiaran.” katanya.

 

 

Penulis : DSJ

Editor.   : AB