Batara Media | Bone – Laporan dugaan Melawan Hukum atas Kasus dugaan penjualan pupuk subsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang di laporkan Kelompok Masyarakat Congko beberapa waktu lalu kini kembali bergulir di Polres Bone.

Informasi tersebut di benarkan
Kanit Ekonomi Polres Bone Ipda Dody Ramaputra SH, MH kepada bataramedia.com melalui konfimasi via whatsapp.

serangkaian penyelidikan sudah di lakukan terhadap sejumlah saksi dan kini laporan tersebut kembali akan di lakukan gelar perkara.

“Laporan pengaduan itu telah dilakukan penyelidikan berupa pengambilan keterangan dari berbagai pihak. Selanjutnya kami akan jadwalkan lakukan gelar perkara untuk menentukan dapat atau tidaknya kasus tersebut ditingkatkan ke tahap penyidikan. Ungkapnya singkat Melalui Pesan Whatsapp Jumat 12 Maret 2021”

READ  JABARKAN MAKLUMAT KAPOLRI, SAT SABHARA POLRES GOWA INTENS GELAR OPEERASI

Seperti di beritakan sebelumnya, masyarakat petani yang tergabung dalam kelompok masyarakat Desa Congko Kecamatan Barebbo kabupaten Bone melayangkan laporan ke polres bone terkait adanya indikasi pupuk beredar ke masyarakat di atas rata-rata Harga Eceran Tertinggi(HET). Hal ini di ungkapkan salah seorang warga congko Andi daris di temui beberapa waktu lalu di warkop teras bone.

Ia merasa di rugikan atas kondisi harga jual pupuk di wilayahnya yang tidak sesuai harga normal. Sehingga kami sepakat dengan beberapa warga berinisiatif melakukan pelaporan agar persoalan ini tidak berlarut-larut.

Kondisi tersebut membuat dirinya bersama masyarakat desa congko merasa resah adanya penyaluran pupuk bersubsidi yang di jual di atas harga sebenarnya di duga di lakukan oleh pengecer atau kios di wilayahnya.

READ  PASCA PEMUNGUTAN SUARA BERAKHIR, BRIMOB POLDA SULSEL DAN SABHARA POLRES GOWA INTENS PATROLI BERSAMA

berdasarkan rilis laporan yang di sampaikan ke polres Bone, bahwa modus yang di lakukan pihak pengecer atau kios penyalur seperti pupuk subsidi jenis urea harga normal Rp. 90.000 / 50 kg sementara ia bersama petani laim membelinya dengan harga Rp. 110.000 / 50 kg. Begitupula pupuk jenis NPK HET Rp. 115.000 / 50 kg petani membelinya seharga Rp. 135.000 atau rata-rata selisih harga 20.000 dari harga HET.

Selisih harga itu. pengakuan idris berdasarkan informasi pengecer itu untuk biaya transportasi. Pihak pengecer juga melarang petani untuk membeli langsung ke Kios melainkan melalui kelompok tani.
Bahkan di perparah data eRDKK (Elektronic Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) tidak sesuai.

READ  KAPOLRES GOWA HADIRI RAKOR TIM TERPADU PENANGANAN KONFLIK SOSIAL

Ia mencurigai adanya permainan harga pupuk bersubsidi mengindikasi adanya sistem monopoli dan tentu bertentangan dengan regulasi yang ada. Sehingga kami bersama sama menggiring persoalan ini karena hukum untuk kemudian di tindaklanjuti oleh penegak hukum,desak Idris

Laporan : Syahruddin

Editor     : Ts

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here