BATARAMEDIA.COM | Muhammad Ali (35) warga Dusun Baringan Desa Laiyolo Kecamatan Bontosikuyu Selayar Propinsi Sulawesi Selatan sudah mulai mengeluhkan penambangan pasir pantai yang terjadi ditiga lokasi yang terletak disebelah utara kebun kelapa miliknya. Pasalnya, sejak terjadinya penambangan di Binanga Toatoa, Dongkalang dan Balindongan sejak beberapa bulan terakhir, kini pohon kelapa miliknya sudah lebih dari 10 pohon yang tumbang akibat pengikisan air laut dan abrasi pantai.

Melalui telephon seluler yang difasilitasi oleh salah seorang tokoh masyarakat Desa Laiyolo, Muhammad Ali mengaku sangat diresahkan oleh warga setempat yang melakukan penambangan pasir pantai disekitar lokasi kebun kelapa miliknya.

“Sejak terjadinya penambangan pasir pantai khususnya di Binanga Toatoa sebelah utara Kampung Baringan, saya sudah mulai resah. Karena sudah puluhan pohon kelapa milik saya yang tumbang akibat pengikisan dan abrasi pantai yang semakin memprihatinkan. Karena itu, melalui media ini kami selaku pemilik kebun kelapa berharap agar kiranya pihak yang berkompoten dapat menghentikan aktivitas dan kegiatan penambangan yang saat ini sedang berjalan.” pinta dia.

READ  Ketiga Bendahara Mengaku Hanya Formalitas Oknum Kepala Desa Yang Kantongi Uang

Sebelum melakukan penindakan terhadap para pelaku penambangan pasir pantai, baik diwilayah Balindongan, Dongkalang dan Binanga Toatoa serta lokasi-lokasi lain di Selayar semestinya Pemda Kepulauan Selayar melalui Kepala Bagian Hukum dan Hak Asasi Manusia harus mendahului dengan melakukan sosialisasi hingga ke pelosok-pelosok agar pemahaman masyarakat terkait UU RI Nomor 11 Tahun 2020 mengenai Cipta Kerja bisa lebih dimengerti dan dipahami.

Karena menurut hemat saya kata seorang sumber yang tidak ingin namanya dimediakan, banyak masyarakat yang belum tahu dan memahami akan isi dari UU RI Nomor 11 Tahun 2020 itu. Saya yakin termasuk warga masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Bontosikuyu. Bagaimana masyarakat bisa tahu tentang UU itu, jika Pemerintah sendiri tidak pernah turun menyampaikan melalui sosialisasi dan penyuluhan hukum. Jika ada pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat setempat mestinya kita semua menyadari bahwa kesalahan itu bukan dengan sengaja dilakukan tetapi karena tidak tau dan tidak memahami akan aturan ini.” pungkasnya.

READ  PERAK Pertanyakan Kapasitas si Becce di SMAN 5 Makassar

Seorang pelaku penambangan pasir pantai yang mengaku dari Kampung Pao Lassang Desa Harapan Kecamatan Bontosikuyu mengaku menjual Rp 75.000 perkubik. Lain halnya yang diungkapkan oleh seorang sopir truck dari Kota Benteng. Ia mengaku membeli Rp 60.000,- perkubik dari pemilik pasir. Setiap res bisa memuat hingga 6 kubik dan dijualnya kepada konsumen senilai Rp 750.000,-

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Bontosikuyu, Iptu Abd Hamid melalui Hp selulernya mengaku sudah berkoordinasi dengan Kepala Desa Laiyolo Baru, Hasanuddin. “Saya sudah melakukan koordinasi dengan Hasanuddin selaku kepala desa. Saya juga diundang untuk hadir dalam rapat yang akan digelar Jumat, 04 Juni pekan ini. Dan menurut pak desa, semua pemilik lahan disekitar lokasi penambangan akan diundang sekaligus akan diadakan sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada warga setempat termasuk para pelaku penambangan disekitar bibir pantai Balindongan.” katanya kepada media ini, Selasa (01/06/21) siang ini.

READ  Demo di Kejati Sulsel, PERAK Tuntut Proyek Tanggul Sungai Rp 38,5 M di Barru Dituntaskan

Iapun berpendapat mestinya Pemda Kepulauan Selayar melalui Kabag Hukum dan instansi teknis terkait, turun melakukan penyuluhan hukum kepada masyarakat bawah. Apalagi ini UU RI Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja belum banyak diketahui oleh masyarakat khususnya diwilayah pedesaan. Melalui kesempatan tersebut, saya juga menyarankan kepada Kepala Desa Laiyolo Baru untuk dapat menanam pohon bakau disekitar lokasi penambangan disamping penambangan yang saat ini sementara berjalan dapat dihentikan. Ini sebagai upaya untuk meremajakan kembali lokasi yang terancam abrasi.” kata dia.

Kepala Bagian Hukum dan HAM Setda Kepulauan Selayar, Muhammad Basir, SH yang hendak dikonfirmasi melalui telephon genggamnya seputar malasah ini, handphone miliknya on namun tidak memberikan respon. Begitu pula pesan pendek yang dilayangkan via WhatsAppnya sampai berita ini diturunkan belum mendapatkan balasan.

 

Penulis ; DJ

Editor.   : TS