BataraMedia.com | Jeneponto – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Jeneponto yang tergabung dalam Gerakan Jeneponto Menolak OMNIBUS LAW Jilid II, angkat bicara persoalan tindakan represif aparat Kepolisian dalam mengatasi peserta aksi demostran penolak UU Omnibuslaw di depan kantor DPRD Kabupaten Jeneponto, Senin (12/10/2020) Sekitaran Pukul 15.30 Wita.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Ketua PC PMII Jeneponto Muh Idris Haris dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2020), Sekretariat PC. PMII JENEPONTO Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto. Menurutnya Kapolres Jeneponto tidak profesional menjadi pimpinan dan di anggap tidak Baik dalam memerintahkan Anggota nya untuk jadi pengamanan Aksi

ketua PMII Jeneponto Muh Idris Haris mengatakan sangat mengecam tindakan kekerasan kepolisian terhadap peserta aksi pada saat aksi GeJoLak Jilid II di depan kantor DPRD Kab Jeneponto,Kapolres Jeneponto juga tidak profesional menjadi pimpinan dan tidak profesional dalam memerintahkan Anggota nya untuk jadi pengamanan Aksi, dan Aparat Kepolisian juga tidak mencerminkan sebagai Pengayom dan pelindung masyarakat, bahkan jendral lapangan dan beberapa pimpinan yang berada di atas mimbar orator di pukuli oleh pihak kepolisian dan termasuk saya yang terkena pukulan Pentulan, bambu oleh pihak kepolisian dan ada 4 peserta aksi yang di rawat RSUD Jeneponto, “Ujar Haris.

READ  Kapolda Sulsel Hadiri Vaksinasi Alumni SIP 50 Tahun 2021 Wira Satya Adhipradana Polda Sulsel Pelajar Di SMKN 2 Makassar

“Kepada Kapolri bapak jenderal Idham aziz agar mengevaluasi Kapolres Jeneponto yang tidak profesional dalam menangani Aksi unjuk rasa Kemarin,” Tutup Haris.