MEDIA BATARA.COM | Polres Bone rencananya aka menjadwalkan pemanggilan kepada pengecer pupuk yang di duga memainkan harga pupuk subsidi atau di jual di atas harga eceran tertinggi (HET).

Sejumlah petani dan kelompok tani sudah dimintai keterangan kata Kanit Ekonomi Polres Bone Ipda Dody Ramaputra SH, MH melalui pesan konfimasi via Whatsapp Selasa 5 Januari 2021

Rencana Pemanggilan untuk pemeriksaan kepada pengecer pupuk sekaitan dengan laporan pengaduan yang diadukan oleh warga Desa Congko Kec.Barebbo Beberapa waktu lalu.

Menurutnya, saat ini Penyidik sementara melakukan serangkaian kegiatan penyelidikan, yakni telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa Petani dan Ketua Kelompok Tani.

Selanjutnya penyidik akan menjadwalkan pemeriksaan terhadap Pengecer dan pihak yang terkait dengan Pengawasan Pupuk Bersubsidi di Desa Congko Kecamatan Barebbo Kabupaten Bone

READ  LAZISMU dan IMM Bantaeng Distribusikan Bantuan Korban Kebakaran

Seperti di beritakan sebelumnya, masyarakat petani yang tergabung dalam kelompok masyarakat Desa Congko Kecamatan Barebbo kabupaten Bone melayangkan laporan ke polres bone terkait adanya indikasi pupuk beredar ke masyarakat di atas rata-rata Harga Eceran Tertinggi(HET). Hal ini di ungkapkan salah seorang warga congko Andi daris di temui beberapa waktu lalu di warkop teras bone.

Ia merasa di rugikan atas kondisi harga jual pupuk di wilayahnya yang tidak sesuai harga normal. Sehingga kami sepakat dengan beberapa warga berinisiatif melakukan pelaporan agar persoalan ini tidak berlarut-larut.

Kondisi tersebut membuat dirinya bersama masyarakat desa congko merasa resah adanya penyaluran pupuk bersubsidi yang di jual di atas harga sebenarnya di duga di lakukan oleh pengecer atau kios di wilayahnya.

READ  Di momentum hari ibu, Begini makna dan harapan Srikandi GANN

bersadarkan rilis laporan yang di sampaikan ke polres Bone, bahwa modus yang di lakukan pihak pengecer atau kios penyalur seperti pupuk subsidi jenis urea harga normal Rp. 90.000 / 50 kg sementara ia bersama petani laim membelinya dengan harga Rp. 110.000 / 50 kg. Begitupula pupuk jenis NPK HET Rp. 115.000 / 50 kg petani membelinya seharga Rp. 135.000 atau rata-rata selisih harga 20.000 dari harga HET.

Selisih harga itu. pengakuan idris berdarakan informasi pengecer itu untuk biaya transportasi. Pihak pengecer juga melarang petani untuk membeli langsung ke Kios melainkan melalui kelompok tani.
Bahkan di perparah data eRDKK (Elektronic Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) tidak sesuai.

READ  BKKBN Adakan FGD Bersama mitra kerja komisi IX DPR-RI

Ia mencurigai adanya permainan harga pupuk bersubdi mengindikasi adanya sistem monopoli dan tentu bertentangan dengan regulasi yang ada. Sehingga kami bersama sama menggiring persoalan ini kerana hukum untuk kemudian di tindaklanjuti oleh penegak hukum. desak Idris.!

 

Penulis ; Udn.

Editor.   ;  AT.