BATARAMEDIA.COM | Sedikitnya tiga lokasi penambangan pasir pantai diwilayah Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar Propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) ditutup, Senin (07/06/21) kemarin. Aktivitas pemagaran ketiga lokasi itu dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Selayar, H Muhammad Hasdar, S.KM, M.Kes, Danramil 1415-01 Bontosikuyu, Mayor Inf Muh Rusli, Kapolsek Bontosikuyu, Camat Bontosikuyu, Kepala Desa Laiyolo Baru, Hasanuddin serta para pemilik lahan dan para pelaku penambang. Ketiga lokasi itu adalah Balindongan yang secara administratif berada diwilayah Desa Laiyolo Baru sedangkan Dongkalang dan Binanga Toatoa diwilayah Dusun Baringan Desa Laiyolo Kecamatan Bontosikuyu.

Ditemui diruang kerjanya kemarin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, H Muhammad Hasdar mengemukakan,” Setelah melakukan peninjauan langsung ke lokasi penambangan ditiga tempat, ternyata kerusakan pada bibir pantai di Binanga Toatoa wilayah Dusun Baringan Desa Laiyolo jauh lebih fatal, lagi memprihatinkan ketimbang kerusakan di Balindongan wilayah Desa Laiyolo Baru. Olehnya itu, Dinas Lingkungan Hidup sementara membuat surat teguran yang akan dilayangkan kepada Kepala Desa Laiyolo, Bakhnur Afandi di Pa’garangan.

READ  Pelaku pembunuhan di Jeneponto belum di tangkap, pengacara desak polisi

Kalau dia (Bakhnur Afandi) tidak tau terkait penambangan pasir pantai diwilayah desanya seperti diberitakan media ini sebelumnya maka Dinas Lingkungan Hidup yang akan memberitahu jika wilayahnya sudah rusak parah khususnya pada lokasi penambangan di Binanga Toatoa wilayah Dusun Baringan. Bahkan menurut informasi yang kami peroleh, jauh sebelum aktivitas penambangan ini tercium oleh media, aktivitas kegiatan penambangan di Binanga Toatoa malahan menggunakan alat berat. Keresahan dikalangan sebagian pemilik lokasipun sudah mulai muncul. Cuma karena mereka pintar menjaga perasaan tetangganya sehingga pemilik lokasi hanya mampu diam tak berkata. Mereka merasa lega setelah aktivitas penambangan mulai viral dimedia. Pengakuan ini terungkap setelah rapat konsultasi yang difasilitasi oleh Kepala Desa Laiyolo Baru, Hasanuddin di Aula PKK kemarin, Senin (07/06/21).” ungkap Kadis LH.

READ  Diduga Menyimpang, PERAK Soroti Program KOTAKU di Kelurahan Tallo

Selain itu, juga muncul keluhan warga setempat pasca pemagaran lokasi. Jika aktivitas penambangan ini ditutup, masyarakat yang saat ini sementara membangun rumah akan kesulitan untuk mendapatkan bahan material berupa pasir. Menjawab keluhan ini, Dinas LH menyarankan kepada warga setempat untuk membeli pasir kepada pemilik izin pengelola tambang galian golongan C. Karena apabila kegiatan penambangan masih tetap berjalan maka pemilik izin akan terus memprotes para penambang yang tidak memiliki izin dari pemerintah. Sementara untuk mendapatkan izin, itu memerlukan dana yang tidak sedikit.” kata H Muhammad Hasdar usai menghadiri rapat di Aula PKK Kantor Desa Laiyolo Baru kemarin.

Apabila proses penambangan masih tetap berlangsung lanjut dia,” Maka dampaknya bukan hanya akan dirasakan oleh pemilik lahan dan penambang itu sendiri namun akan berdampak pada keselamatan warga setempat. Abrasi pantai dan pengikisan air laut akan mengancam perkampungan penduduk di Dusun Baringan dan Sangkeha pada khususnya.” kata H Muhammad Hasdar.

READ  Di duga Langgar Kode Etik, DKPP Periksa Ketua dan Anggota Bawaslu Luwu Timur

Jika para penambang masih ingin melanjutkan aktivitasnya diharapkan untuk mengurus izin usaha pertambangan. Kalau izin usahanya sudah terbit maka sudah tidak ada lagi yang akan mencegatnya. Sebab sudah akan memiliki izin dari Pemerintah. Penghentian aktivitas penambangan tidak hanya akan berakhir sampai dirapat ini akan tetapi diharapkan Pemerintah Desa (Pemdes) dapat mengambil sikap untuk segera melakukan penanaman pohon bakau atau vinus untuk mengantisipasi munculnya kerusakan pantai yang dapat mengakibatkan abrasi.” pungkas mantan Camat Bontoharu ini.

 

Penulis ; DSJ

Editor.   ; AB