BATARAMEDIA.COM, Jampea Selayar
Denta Embong (52) warga Lembongan Desa Bontobaru yang menjadi korban laka lantas (tabrakan) antara mobil dan sepeda motor dijalan poros Kayuagin – Doda di Pulau Jampea, Sabtu (02/10/21) yang lalu, kini sudah mengalami cacat tubuh seumur hidup setelah diamputasi oleh pihak petugas medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Hayyung Selayar. Proses amputasi ini dilakukan sekitar setengah bulan pasca kejadian karena kaki sebelah kiri korban sudah remuk dan hancur akibat digilas ban mobil yang dikemudikan Saparuddin warga Kayuangin Desa Massungke Kecamatan Pasi’masunggu Kepulauan Selayar Propinsi Sulawesi Selatan.

Muhammad Yusuf (50) suami dari Denta Embong yang ditemui ditempat kostnya di Parappa depan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Jl KH Abd Kadir Kasim sekitar pukul 07.00 Wita, Sabtu (23/10/21) tadi malam mengakui jika dirinya dalam kesulitan untuk membiayai pengobatan istrinya. “Terus terang pak, kami ini sudah kesulitan untuk mendapatkan biaya pengobatan istri saya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kesulitan apalagi biaya pengobatan yang tidak diketahui kapan sembuhnya secara total. Sementara pihak pelaku hanya memberi kami uang Rp 1 juta.” katanya merasa prihatin.

Padahal dalam surat pernyataan perdamaian khususnya pada poin kedua dan ketiga lanjut Yusuf menyatakan bahwa pihak kedua, Saparuddin bersedia menanggung segala biaya pengobatan yang dialami oleh pihak pertama, Denta Embong sehubungan dengan kejadian laka lantas yang mengakibatkan pada kaki sebelah kirinya diamputasi (dipotong).

Sedangkan pada poin ketiga dijelaskan, apabila dikemudian hari, ada diantara kedua belah pihak tidak menepati isi dari perjanjian ini maka yang bersangkutan bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Adapun saksi-saksi yang dihadirkan dalam penandatanganan surat pernyataan perjanjian itu masing-masing, Nurdiana istri dari Saparuddin dan Muhammad Yusuf suami dari Denta Embong serta diketahui oleh Kepala Desa Massungke, Muh Iskandar AS dan Kepala Desa Bontobaru, Daeng Malimbang.

Yang lebih anehnya lagi karena saya yang dipersalahkan oleh pihak polisi. Alasannya saya yang menabrak mobil itu. Mobil sudah keluar dari badan jalan yang saya tabrak. Padahal mobil itu keluar dari badan jalan setelah selesai menabrak saya. Lagian motor saya kan rusak dari belakang. Kalau saya yang menabrak tentu bagian depan motor saya yang rusak bukan lampu belakang dan stand plat nomor polisi yang patah. Tapi maklum, kami memang orang miskin yang pantas dipermainkan.” ucap Yusuf kecewa dengan ditemani anak perempuannya Dasmi (14).

READ  Penerapan PKM, Pemkot Makassar gelar rapat bersama dengan pelaku ekonomi. ini Hasilnya

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pasi’masunggu, Ajung Komisaris Polisi (AKP) Kaharuddin yang dikonfirmasi sekaitan kasus laka lantas ini mengungkapkan,” Jika kasus ini ditangani oleh Satuan Lalu Lintas Polres Selayar. Informasi saya peroleh kalau kedua belah pihak sudah didamaikan. Dan itu tabrakan antara mobil yang dikemudikan oleh Saparuddin dan sepeda motor yang dikendarai oleh Muhammad Yusuf. Dan saya kira itu korban hanya luka ringan saja. Dan ternyata lukanya sudah parah bahkan sudah diamputasi. Dan akan cacat seumur hidup.” imbuhnya merasa prihatin.

Saya juga kirim tersangkanya, Saparuddin ke Polres Selayar. Sedangkan lebih dahulu korbannya dibawa ke RSUD KH Hayyung Selayar untuk ditangani secara medis saat itu melalui perahu cepat. Hanya saja menurut keterangan anggota, mereka sudah didamaikan di Polres Selayar. Namun damainya seperti apa, itu yang saya kurang tau. Namun itu bisa ditanyakan ke Unit Laka Lantas.” ungkapnya mengarahkan.
Sumber

BATARAMEDIA.COM dari Satlantas Polres Kepulauan Selayar menyatakan jika sudah ada kesepakatan berdasarkan surat pernyataan perjanjian damai antara korban dan tersangka bersama keluarga kedua belah pihak. Pihak pengemudi mobil secara ikhlas memberikan bantuan tanpa melihat benar dan salahnya diantara mereka. Termasuk biaya carter kapal dari Jampea ke Selayar untuk berobat. Namun yang namanya bantuan itu tergantung kesepakatan dan keikhlasan yang tak terbatas.

Terus terang jika kita berbicara benar atau salah, itu sesungguhnya yang salah itu adalah pengendara motor. Sebab jalur yang dilalui saat berkendara itu pada bagian jalur sebelah kanan. Bahkan mobil yang dikemudikan oleh tersangka Saparuddin sudah mencoba keluar dari badan jalan. Bahkan jika Saparuddin hendak mengajukan keberatan, malah pengemudi mobil yang akan keberatan. Apalagi jika berdasarkan gambar saat kejadian dan ditambah keterangan anggota di Tempat Kejadian Perkara (TKP), itu yang salah adalah pengendara sepeda motor. Juga ada foto-foto saat kejadian, bekas goresan, titik dan posisi akhir dapat disimpulkan bahwa justru pengendara motor itu yang lalai.” ungkapnya kepada media ini.

READ  Diminta Melanjutkan Kepemimpinan Anregurutta Sanusi Baco, Kiai Naja Ungkap Ini

Selain itu, juga di RSUD KH Hayyung itu Jasaraharjanya yang Rp 20 juta sudah limit. Sudah maksimal. Karena itu, kami dari Satlantas mengarahkan keluarga korban untuk mengurus BPJS Kesehatan agar selebihnya dari biaya yang Rp 20 juta ditanggung oleh BPJS. Dan itu sudah diurus oleh keluarga korban.” jelas sumber itu.

Kepala Desa Massungke, Muh Iskandar AS yang dikonfirmasi melalui jaringan selulernya, Senin (25/10/21) pagi tadi menyatakan bahwa saat kejadian dirinya sedang berada di Makassar. Menurut informasi yang kami dapatkan bahwa saat kejadian ada seorang pengendara mendahului lewat jalur kiri. Akibatnya, suami korban kaget dan tak dapat mengendalikan sepeda motornya sehingga menabrak mobil yang dikendarai oleh tersangka Saparuddin yang sudah hampir keluar badan jalan karena menghindar. Dalam kondisi panik, korban Denta Embong lompat dari motor yang dikendarainya. Melihat kondisi korban yang cukup parah maka muncul niat baik dari tersangka untuk membawa korban ke RSUD KH Hayyung Selayar untuk mendapatkan penanganan secara medis. Termasuk biaya makan dan obat ditanggung oleh tersangka.

Dan terakhir anak dari Denta Embong mengambil sebuah kesimpulan dan bersikeras jika orang tuanya harus diamputasi. Sementara anaknya ini tidak tahu apa yang dimaksud amputasi. Yang menurut pengertian dan pemahaman dari anaknya ini, amputasi itu artinya dibedah. Setelah selesai diamputasi barulah dia sadar bahwa amputasi artinya dipotong. Timbullah sebuah penyesalan yang luar biasa. Karena orang tuanya akan cacat seumur hidup. Pihak tersangka juga sudah angkat tangan setelah dilakukan proses amputasi. Maka muncullah pernyataan yang kedua.” kata Iskandar menjelaskan.

READ  Terima Dana Hibah Dari YESS, Petani Milenial Bantaeng sangat bahagia

Sementara itu, tersangka Saparuddin yang dihubungi via selulernya di Jampea menampik penjelasan suami korban Muhammad Yusuf. ” Saya habis uang untuk biaya pengobatan Denta Embong sekitar kurang lebih Rp 50 jutaan. Itu yang Rp 1 juta hanya tambahan saja. Biaya rumah sakit hampir Rp 30 juta. Kemudian carter jolloro ke Selayar dan termasuk ongkos makan dan lain-lain sehingga mencapai dikisaran Rp 50 jutaan.

Sebelum korban diamputasi, saya diancam oleh anaknya bersama dengan sepupunya. Sehingga saya berkesimpulan dan menyampaikan kepada mereka jika memang belum puas dengan pengorbanan biaya dan ongkos yang saya keluarkan, biarlah saya diproses secara hukum. Tapi dengan syarat uang biaya rumah sakit dan sewa jolloro yang totalnya lebih Rp 30 juta dikembalikan. Akhirnya ia kembali melaporkan saya di Polres. Sayapun dipanggil untuk menghadap ke Kantor Polisi. Kamipun difasilitasi dan diminta kesediaan saya untuk memberikan biaya tambahan.

Saya ungkapkan dihadapan polisi jika uang saya sudah habis. Tapi meskipun begitu, kalau yang wajar tetap saya masih bisa membantunya. Makanya saya tambahkan lagi Rp 1 juta. Dan itulah yang dibuatkan surat pernyataan perjanjian kedua. Bahkan saya meminta kepada anak-anak mereka untuk saya obati dan dirawat sampai sembuh total dirumah saya. Tidak perlu dioperasi. Karena lukanya sudah mau sembuh. Tapi mereka tetap bersikeras untuk dioperasi. Ternyata setelah keluar dari kamar operasi lalu mereka semua kaget jika ternyata amputasi itu artinya dipotong. Maka timbullah penyesalan karena orang tuanya sudah cacat seumur hidup.” kata Saparuddin.

Penulis : DSJ
Editor.   : AB