Jeruji Tanpa Besi

Oleh : Freedy Van Der

Tahun 1965, kakek kami tengah menjalani rutinitas hariannya di amsterdam, kakek salah satu dari ribuan pelajar yg dikirim pemerintahan soekarno ke eropa untuk pelatihan dan study lanjutan, kebanyakan para prajurit yg seangkatan beliau di kirim ke moscow rusia.

Beliau yg tak tahu apa apa tentang kondisi politik indonesia masa itu, menjadi korban. Pasport di cabut dan beliau di jagal untuk kembali ke indonesia. Orde baru berkuasa.

Di tanah yg asing, kakek hidup terlunta-lunta. Pontang panting menyelamatkan diri dan hidupnya tanpa keluarga. Bertahan di tanah eropa, seperti di penjara tanpa dia tahu salahnya apa.

Begitulah. Lantas kekinian sejarah mencatat ttg eksil yg tak bisa pulang ke negeri sendiri sebagai PKI. Sebutan PKI tentu stigma terburuk bagi banyak orang. Kemudian bagaimana dengan kami-kami generasi ketiga dari orang yg di cap PKI?

READ  Kelurahan Melayu Ikuti Lomba Kawasan Zona Sehat Makassar

Terkadang saya marah, sulit ternyata berdamai dgn kesalahan stigma. Apakah kakek seorang PKI? Tidak. Kakek adalah orang yg loyal pada soekarno. Berdasar loyalitas yg tinggi itu pulalah kakek tak pernah mau menginjakan kaki ke tanah pertiwi ini. Bahkan sampai ajal menemuinya di nijmegen, belanda sana.

Sulit bagi kami ( yg di cap keturunan PKI) untuk membantah argumentasi banyak orang. Karena ruang dialog tidak pernah dibuka. Stigma bahwa PKI itu sebiadabnya kelakuan sekelompok orang sudah mengakar erat di benak masing masing.

Karena sejarah di negeri ini di tulis oleh yg MENANG. yang menang ORBA. Tentu ORBA lah pahlawan nya. Meski sejatinya mereka lah pelaku dan otak di balik tragedi paling hitam di negeri ini.

READ  SEKAT-RI Bantu Janda Penderita Leukimia di Gowa

Tak mengapa, stigma hanya buah pikiran yg berasal dari dokrin yg tak pernah mampu di cerna. Setidaknya.. Ketika kakek saya di sebut PKI oleh banyak orang, bahkan terusir jauh dari tanah kelahirannya. Hingga kami cucu-cucunya terlahir sebagai anak eropa. Kami tak pernah dididik kakek kami untuk membunuh atau membantai manusia lain. Jangan hal keji sebiadab itu. Untuk bersikap intoleransi pada yg berbeda agama saja kami di larang.

Tidak perlu rekonsiliasi atau negara harus meminta maaf. Karena itu tentu menyakiti posisi yg lain. Yg dibutuhkan adalah ruang dialog terbuka. Bukan untuk mencari siapa yg benar atau salah. Tapi bagaimana anak bangsa ini mampu mendewasakan pemikiran ttg sejarah masa lampau. Tanpa di belenggu pada kebenaran yg hanya satu posisi. Tapi mampu untuk menjaga bahwa kejadian kelam jangan sampai terulang lagi.

READ  Kejar Target Pra TMMD Ke- 109 Wilayah Perbatasan Kodim 0910/Malinau Mulai Plester Dinding Gereja

Sebagai cucu dari seorang kakek yg di PKI kan. Yg hingga ajalnya dia tak pernah tau kesalahan apa yg ia lakukan, sehingga harus di buang oleh negara yg mengirimnya ke daratan eropa hingga terlunta lunta. Di tolak pulang oleh negara yg sangat ia cintai dalam abdi prajuritnya.
Saya berpesan untuk semua keluarga yg ter-PKI-kan.
Kita adalah darah yg terpenjara tanpa besi tahanan. Kelak ada masa dimana kebenaran menemui jalannya. Berdamailah. Sedamai hati para eksil yg terbuang dari negeri ini. Dan sedamai jiwa jiwa eksil yg menemui ajalnya di tanah daratan pembuangan nya.

“Kita hidup pada satu negara yg bangsanya menolak dewasa”.

Salam Merdeka
Ende Ilaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here